Showing posts with label Makalah Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Makalah Pendidikan. Show all posts

Wednesday, January 3, 2018

Makalah Standar Mutu BS5750 dan ISO 9000


STANDAR MUTU BS5750 DAN ISO 9000

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Saat ini mutu pelayanan publik merupakan fokus utama bagi pemerintah dan masyarakat.kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap mutu memang semakin meningkat, terbukti dari semakin menjamurnya akreditasi di berbagai instansi pelayanan publik.Bagi setiap institusi, mutu adalah agenda utama dan meningkatkan mutu merupakan tugas yang paling penting. Walaupun demikian, ada sebagian orang yang menganggap mutu sebagai sebuah konsep yang penuh teka-teki. Mutu dianggap sebagai suatu hal yang membingungkan dan sulit untuk diukur. Mutu dalam pandangan seseorang terkadang bertentangan dengan mutu pendapat orang lain, sehingga tidak aneh jika ada dua pakar yang tidak memiliki kesimpulan yang sama tentang bagaimana menciptakan institusi yang baik.
            Kita memang bisa mengetahui ketika kita mengalaminya, tapi kita tetap merasa kesulitan ketika kita mencoba mendeskripsikan dan menjelaskannya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita akan melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan mutu, terutama jika mutu tersebut sudah menjadi kebiasaan kita. Namun ironisnya, kita hanya bisa menyadari keberadaan mutu tersebut saat mutu tersebut hilang. Satu hal yang bisa kita yakini adalah mutu merupakan suatu hal yang membedakan antara yang baik dan yang sebaliknya. Bertolak dari pernyataan tesebut, mutu dalam pendidikan akhirnya merupakan hal yang membedakan antara kesuksesan dan kegagalan. Sehingga, mutu jelas sekali merupakan masalah pokok yang akan menjamin perkembangan institusi pendidikan dalam meraih status ditengah persaingan dunia pendidikan yang kian keras.
               Salah satu kunci agar sukses dapat bersaing dipasar global adalah kemampuan untuk memenuhi atau melampaui  standar-standar yang berlaku. Apabila kualitas ditentukan oleh pelanggan, maka standar-standar kualitas sama dengan harapan pelanggan. Untuk menjamin adanya keragaman dalam kualitas maka perlu dibentuk standar-standar yang sama pula. Dengan cara ini maka apa yang dianggap sebagai produk berkualitas disuatu Negara juga akan dapat diterima dinegara lainnya.
       Didunia global banyak sekali terdapat berbagai macam standar untuk menetapkan bahwa suatu produk itu dinyatakan “layak”, baik itu barang maupun produk jasa. Salah satu standar yang saat ini menjadi tolak ukur “ layak tidaknya” suatu produk adalah apa yang dinamakan dengan standar mutu inggris BS5750 dan standar internasional 9000.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis menarik beberapa rumusan masalah sebagai pijakan fokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya yaitu sebagai berikut :
1.         Apa itu BS5750 dan ISO 9000?
2.         Bagaimanana aplikasi BS5750 dan ISO 9000 dalam dunia pendidikan ?
3.         Bagaimana hubungan antara BS5750 /ISO 9000 dengan TQM ?

1.3 Metode Pemecahan Masalah

Metode pemecahan makalah yang dilakukan yaitu melalui study literature atau metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan buku, dan juga mencari materi di dalam internet yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas.

1.4  Tujuan Penulisan Makalah

Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas, tetapi ada  beberapa tujuan lain diantaranya yaitu :
1.    Memahami tentang defenisi standar mutu BS5750 dan ISO 9000
2.    Mengetahui bagaimana penerapannya dalam dunia pendidikan.
3.    Memahami hubungan BS5750 dan ISO 9000 dan TQM .
4.    Sebagai bahan bacaan.



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Standar Mutu BS5750 dan ISO 9000

Standar mutu adalah suatu standar yang ditetapkan oleh institusi penghasil produk terhadap mutu produk yang dihasilkannya untuk memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan terhadap kualitas produk yang digunakannya.
Sejumlah standar mutu telah dikembangkan di Inggris dan dinegara lain untuk memberikan dasar tujuan bagaimana  menilai kemampuan sebuah perusahaan dalam mengukur kepastian bahwa barang dan jasanya sesuai dengan masing-masing spesifikasi. (Faure and Mancolm 1999).
Kajian tentang standar mutu pada awal perkembangannya banyak dilakukan dalam dunia bisnis dan industri.Para pengusaha berusaha sekuat tenaga menghasilkan produk yang bermutu yang dapat diterima secara baik oleh masyarakat.Pada tahap-tahap selanjutnya, seperti yang diketahui bahwa kajian tentang standar mutu terus mengalami perkembangan dan evolusi, menjadi semakin matang dan mengalami diversifikasi untuk aplikasi di berbagai bidang seperti manufactur, industri jasa, kesehatan, dan dewasa ini juga di bidang pendidikan.
Salah satu kunci sukses agar dapat bersaing dipasar  global adalah  kemampuan untuk memenuhi atau melampaui standar-standar yang berlaku. (Tjiptono and Anastasia 1996)Standar –standar yangsudah diperkenalkan diantaranya yaitu :
             a. BS5750
BS5750 dipublikasikan pertama kali pada tahun 1979 dengan nama Quality System Pada mulanya ia adalah sistem yang diterapkan Menteri Pertahanan dan NATO, yang dikenal sebagai AQAP, Allied Quality Assurance Procedures (Prosedur Jaminan Mutu Sekutu), yang menjadi kebutuhan organisasi ini dalam posisi mereka sebagai agen-agen belanja mereka. (Creech 1996)BS 5750 terbagi dalam empat bagian. Bagian pertama dapat diaplikasikan pada organisasi yang pengembangan produk atau proses sebagai bahan penting dari bisnis mereka. Sebuah contoh organisasi yang mencari akreditasi.Bagian pertama ini adalah Dewan Pendidikan Teknologi dan Bisnis, yang mana bisnis merekamencakup desain kualifikasi.
                        Bagian kedua diaplikasikan pada mayoritas organisasi dan BSI (British Standards Institution) memandang bahwa bagian ini dapat diaplikasikan pada institusi-institusi pendidikan.Bagian ini juga diterapkan pada organisasi yang bergerak di bidang produksi atau instalisasi.Bagi organisasi yang melakukan inpeksi atau tes produk.Bagian ketiga merupakan bagian yang dibutuhkan.Bagian 4 dari standar tersebut mengarahkan pada tiga bagian sebelumnya. Bagian I BS 5750 identik untuk ISO 9001,  Bagian 2 untuk ISO 9002, dan seterusnya .
                    Selama perang dunia ke-2, terdapat banyak sekali persoalan mutu dalam industri teknologi tinggi di Inggris, seperti amunisi yang meledak saat masih di pabrik pembuatnya. Solusi yang dilakukan adalah dengan mensyaratkan pabrik untuk mendokumentasikan prosedur serta menunjukannya dengan bukti-bukti terdokumentasi untuk membuktikan bahwa prosedur tersebut telah dilakukan sesuai dengan yang dituliskan. Nama standar itu dikenal dengan kode BS5750, dan diakui sebagai standar manajemen sebab ia tidak menyatakan apa yang dibuat, tapi bagaimana mengelola proses pembuatannya. Pada tahun 1987, pemerintah Inggris meyakinkan ISO untuk mengadopsi BS5750 sebagai standar internasional, dan kemudian BS5750 menjadi ISO 9000
b. ISO 9000
ISO 9000 adalah salah satu standar yang dihasilkan di Jenewa, Swiss, pada tanggal 23 Februari1947oleh Organization for Standarization. ISO diambil dalam bahasa Yunani, ISO = equal = setara = sama (http:www.ksupointer.com). ISO merupakan kepanjangan dari International Standar Organization yakni sekumpulan standar sistem kualitas universal yang memberikan rangka yang sama bagi jaminan kualitas yang dapat dipergunakan diseluruh dunia.
Iso bukanlah sebuah singkatan, melainkan sebuah istilah yang berasal dari bahasa yunani (Isos) yang berarti “sama”. Kemudian istilah ISO dijadikan sebuah nama standar mutu organisasi tingkat Internasional yang berisi tentang sistem manajemen mutu (Quality Management System). Berbeda dengan penghargaan yang lain tujuan ISO 9000 bukan membrikan kerangka bukan untuk memberi peningkatan dan perubahan organisasi, meskipun hal itu dapat dilakukan melalui penerapan ISO 9000.
Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (2002) menyatakan bahwa tujuan utama dari ISO 9000 adalah:
a.  Organisasi harus mencapai dan mempertahankan kualitas produk atau jasa yang dihasilkan, sehingga secara berkesinambungan dapat memenuhi kebutuhan para pengguna (costumer).
b.  Organisasi harus memberikan keyakinan kepada pihak manajemennya sendiri bahwa kualitas yang dimaksudkan itu telah dicapai dan dapat dipertahankan.
c.   Organisasi harus memberikan keyakinan kepada pihak costumer bahwa kualitas yang dimaksudkan itu telah atau akan dicapai dalam produk atau jasa yang dijual.
                   Proses ISO berbeda dengan  penghargaan yang lain. Tidak ada suatu yang memiliki kewenangan mutlak mengeluarkan penghargaan ISO 9000.Bahkan standar pusat ISO yang berada di janewa yang mengeluarkan standar ISO 9000. Penghargaan ISO 9000 dinyatakan dalam suatu sertifikat yang dikeluarkan oleh suatu lembaga sertifikasi sistem mutu ( LSSM) yang telah terakriditasi oleh lembaga akriditaasi nasional.
Di indonesua, lembaga akriditasi nasional yang mempunyai lewenangan memberikan akriditasi kepada LSSM ialah Komite Akriditasi Nasional ( KAN) yang beranggotakan stakeholder standardisasi. KAN telah melakukan saling pengakuandengan Negara-negara yang tergabung dalam PAC.

B.     Filosofi dibalik BS5750 dan ISO9000

Sistem jaminan mutu lebih menekankan pencegahan dari pada pengobatan.Mutu dibangun dalam setiap tahap dari perencanaan hingga pengadaan bahan, produksi, pemasaran dan distribusi melalui sebuah sistem manajemen yang teliti dan formal untuk menjamin kesesuaian produk atau layanan dengan spesifikasinya.Tujuannya adalah memproduksi hasil konsisten yang sesuai dengan tujuan.
Apabila sistem mutu disesuaikan dengan BS5750/ISO9000, maka seluruh aktivitas produksi barang atau layanan memerlukan prosedur yang terdokumentasikan.BS5750 dan ISO9000 menetapkan sebuah disiplin bagi mereka yang siap menggunakannya.Melaksanakan sebuah sistem memang bukan sebuah hal yang mudah, untuk melaksanakannya membutuhkan investasi sumberdaya dan waktu para staf.Setiap orang dalam institusi perlu memahami implikasi sistem tersebut dan menjalankan prosedur yang telah ditetapkan.
BS5750 / ISO9000 hanya mengatur standar bagi system mutu dan tidak mengatur standar yang harus dicapai oleh institusi atau pelajarnya.Apa yang dilakukan oleh BS5750/ISO9000 adalah menegaskan sebuah system yang menjamin beroperasinya standar yang telah diputuskan. BS5750/ISO9000 tidak bisa menjamin konsistensi standar dalam institusi.Ini merupakan hal penting yang harus dipetimbangkan, karena banyaknya perhatian yang diberikan pendidikan inggris dalam mempertanyakan konsistensi sebuah standar. BS5750 dan ISO9000 dikembangkan dalam lingkungan komersial dimana standard an nilai pasarnya adalah uang.

C. Penerapan BS5750 Dan ISO 9000 Dalam Pendidikan

Standar mutu Inggris BS5750 dan standar internasional ISO 9000, baru-baru ini mendapatkan perhatian serius dari dunia pendidikan.Dua standar tersebut mendapatkan perhatian serius terutama dari Amerika dan Eropa.Sekitar 17.000 perusahaan di Inggris sudah terdaftar pada standar BS 5750.Hal ini tidak mengejutkan mengingat bahwa para ahli pendidikan disana memiliki kesadaran untuk menerapkan standar tersebut ke dalam institusi mereka.Pertumbuhan gerakan kerjasama pendidikan dan bisnis (Education Bussines Partnership) telah berhasil merangsang keterkaitan dan perhatian mayarakat terhadap berbagai metodologi bisnis, termasuk BS5750.
Keterkaitan pendidikan terhadap BS5750, bisa dibilang merupakan hal yang baru.Meskipun harus diakui, bahwa baik British Standards Institution (BSI) maupun Internasional Standards Organization (ISO) belum menunjukkan keterkaitan terhadap dunia pendidikan sebelum tahun 1989.Mayoritas perusahaan yang terdaftar pada standar BS5750 adalah perusahaan yang bergerak di bidang produk, namun hal itu kemudian terus merambah ke dalam industri jasa dan praktek-praktek professional, seperti badan-badan amal, arsitek, dan konsultan manajemen.Walaupun demikian, belum ada praktek pendidikan yang memberi jawaban terhadap kesesuaian BS 750/ISO 9000 dalam pendidikan. Memang hanya sejumlah kecil perguruan tinggi dan organisasi pelatihan swasta yang berhasil memperoleh status perusahaan, meskipun demikian, saat ini minat dan keterkaitan terhadap standar tersebut betul-betul telah menyebar dalam pendidikan tinggi dan sekolah-sekolah.
Apabila sistem mutu disesuaikan dengan BS5750 /ISO 9000, maka seluruh aktivitas produksi barang atau lainnya memerlukan prosedur yang terdokumentasikan.Sebagai contoh, pendidikan memrlukan pendokumentasian setiap aktivitas menyangkut penyampaian programnya, termasuk seleksi, wawancara, induksi disiplin, penilaian, catatan prestasi, nasehat dan bimbingan, dan seterusnya.BS5750/ISO 9000 menetapkan sebuah disiplin bagi mereka yang siap menggunakannya.Melaksanakan sistem membutuhkan investasi sumber daya dan waktu para staf.Setiap orang dalam institusi perlu memahami implikasi sistem tersebut dan menjalankan prosedur yang telah ditetapkan.
Persyaratan Sertifikasi ISO 9000 Dalam Pendidikan Edward Sallis dalam bukunya Total Quality Management in Education atau Manajemen Mutu Pendidikan menyatakan bahwa ada beberapa syarat sebuah organisasi/institusi pendidikan agar bisa mendapatkan sertifikasi  BS5750/ ISO 9000, yaitu:
Beberapa syarat utama BS5750/ISO9000
1.         Tanggungjawab Manajemen
2.         Sistem Mutu
3.         Kontrak
4.         Kontrol Dokumen
5.         Pengadaan Bahan
6.         Persediaan Produk
7.         Identifikasi Produk
8.         Kontrol Proses
9.          inspeksi dan tes
10.     perlengkapan inspeksi, pengukuran & tes
11.     status inspeksi dan tes.
12.     kontrol terhadap produk yang tidak sesuai
13.     tindakan perbaikan
14.     penanganan,pengamatan, pengepakan & penyampaian
15.     catatan mutu
16.     audit mutu internal
17.     pelatihan
18.     teknik-teknik statistik
Terjemahan untuk pendidikan
1.         Komitmen manajemen terhadap mutu
2.         Sistem Mutu
3.         Kontrak dengan pelanggan internal & ekternal (hak pelajar dan hak pelanggan ekternal, seperti orang tua)
4.         Kontrol dokumen
5.         Kebijakan seleksi & ujian masuk
6.         Layanan pendukung pelajar, yang mencakup kesejahteraan, konseling dan pengarahan tutorial
7.         Catatan kemajuan pelajar
8.         Pengembangan, desain dan penyampaian kurikulum, strategi-strategi pengajaran dan pembelajaran.
9.         Penilaian dan Tes
10.     Konsistensi metode penialaian
11.     Prosedur dan catatan penilaian yang mencakup catatan prestasi
12.     Metode dan prosedur diagnostik untuk mengidentifikasi kegagalan dan kesalahan
13.     Tindakan perbaikan terhadap kegagalan pelajar. Sistem untuk menghadapi komplain dan tuntutan
14.     Fasilitas & lingkungan  fisik, bentuk tawaran lain, seperti fasilitas olahraga, kelompok-kelompok dan perkumpulan ekstra kulikuler, persatuan pelajar, fasilitas pembelajaran, dll
15.     Catatan mutu
16.     Prosedur-prosedur pengesahan dan audit mutu internal
17.     Pelatihan dan pengembangan staf, mencakup prosedur-prosedur untuk menilai kebutuhan-kebutuhan pelatihan & evaluasi efektifitas pelatihan
18.     Metode review, monitoring dan evaluasi
        
Adanya BS 5750 dan ISO 9000 dalam dunia pendidikan lembaga pendidikan yang telah memiliki sertifikasi BS 5750 dan ISO 9000 akan mengupayakan disiplin untuk menspesifikasikan dan mendokumentasikan sistem mutu mereka dengan mendapatkan akreditasi dari pihak ketiga. Sertifikasi pihak ketiga menyebabkan organisasi bekerja dengan menggunakan standar nasional, dengan pemeriksaan dan penilaian yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memenuhi syarat.
 Dalam dunia pendidikan setidaknya membawa manfaat bagi lulusannya untuk lebih mudah mengembangkan karir di dunia internasional.Menambah rasa percaya diri dalam melamar pekerjaan dan memasuki dunia kerja. Kompetensi personal semakin diperhitungkan oleh perusahaan di mana mereka akan bekerja.

D.      Hubungan antara BS5750/ISO9000 dan TQM

Hubungan antara TQM dan adalah sebuah topik yang selalu diperdebatkan. Hubungan aktual antara TQM dan BS5750/ISO9000 akan menjadi hal yang khas bagi setiap institusi. TQM tidak memaksakan suatu solusi tertentu. Setiap lembaga pendidikan mempunyai kultur unik, kebutuhan dan memiliki cara tersendiri untuk mewujudkannya dalam lingkungan eksternal tertentu. Bagaimanapun juga perlu ditekankan bahwa TQM dan BS5750/ISO9000 dapat secara mudah untuk hadir secara bersamaan dan perlu juga ditekankan bahwa institusi tidak memerlukan hal yang lain. BS5750/ISO9000 bukanlah sebuah standar TQM. TQM adalah upaya serius yang tidak hanya sekedar mendirikan sistem mutu dan ia tidak memerlukan aplikasi standar eksternal.
Ada sejumlah metode yang mungkin dapat membantu melihat hubungan TQM dan BS5750/ISO9000 yaitu :
Model pertama yang melihat BS5750/ISO9000 sebagai langkah awal dari TQM.BS5750/ISO9000 dapat menjadi langkah pertama menuju mutu terpadu. BS5750/ISO9000 menangani infrastruktur prosedural yang mengawali terjadinya perubahan kultur dan prilaku. Memperoleh BS5750 atau ISO9000 memberikan kepercayaan diri kepada institusi untuk melangkah kedepan untuk menangani isu-isu besar yang dihubungkan dengan TQM.
Model kedua, adalah hampir sama dengan yang pertama. Ia memposisikan BS5750/ISO9000 pada bagian inti dalam TQM. Dalam model ini BS5750/ISO9000 menyelenggarakan TQM dan memberikan pondasi yang solid untuk kemajuan selanjutnya.
Model ketiga, BS5750/ISO9000 mempunyai peran yang minor dalam perusahaan TQM yang lebih besar.BS5750/ISO9000 hanya dapat dilihat sebagai satu elemen dalam suatu usaha yang lebih penting.Peranannya hanya sebatas menjamin konsistensi operasional prosedur institusi. Dalam model ini mutu disampaikan oleh pertusipasi aktif seluruh pekerja dalam tim pengembangan dan tidak hanya sekedar prosedur-prosedur terlulis.
Model keempat memiliki pandangan yang berbeda tentang hubungan TQM dan standar mutu eksternal.Dalam modal ini, BS5750/ISO9000 dipandang sebagai hal yang tidak relevan dengan atau antitetik terhadap mutu.BS5750/ISO9000 dipandang sebagai pengacau birokrasi dalam dunia pendidikan.BS5750/ISO9000 menimbulkan sebuah kekuatan dan perasaan permusuhan.Hal ini dipandang oleh beberapa peneliti sebagai suatu kebingungan dan sekaligus sebagai suatu sikap yang merugikan dan anti pendidikan, yang berkonsentasi pada birokrasi dengan mengorbankan tujuan pembelajaran.Bahasa industri tentang standar tidak dapat membantu masalah ini.Pada pembacaan pertama bahasa tesebut nampak sedikit relevansi dan memebutuhkan sedikit penerjemahan agar menjadi sedikit relevan. Ada suatu pernyataan bahwa sistem BS5750/ISO9000 yang diaplikasikan secara kaku akan menjadi sebuah hal yang kontra produktif bagi tenaga kerja terdidik dan profesional, seperti mengajar. Perhatian berlebihan dan keharusan kerja terlalu keras dan kaku terhadap sistem dan prosedur, dapat merusak moral dan kreativitas staf.
     Lembaga-lembaga tertentu akan merasa perlu untuk mengklarifikasi hubungan antara TQM dan BS5750/ISO9000 bagi diri mereka sendiri. Tes yang tajam adalah salah satu contoh sistem yang diinginkan dan dibutuhkan pelanggan. Apabila sejumlah institusi sedah memiliki alasan yang jelas kenapa ia mengejar mutu, maka ia harus memiliki pertimbangan apakah mutu formal mampu membantunya dalam meraih tujuan tersebut. Pemilihan sebuah sistem bukan sekedar untuk keren-kerenan belaka.Ada pebedaan antara keinginan untuk memperkanalkan sebuah sistem asuransi mutu dengan keberhasilan melakukannya. Memperkenalkan BS5750/ISO9000, seperti yang didiskusikan sebelumnya, merupakan sebuah langkah yang mahal dan memakan waktu, bahkan mungkin sulit untuk dilakukan oleh institusi kecil, khususnya sekolah. Dana adalah hal sangat utama dan subtansial, sementara semua benruk manfaat selalu diharap berjangka panjang


                                BAB III
                             PENUTUP

A.      Kesimpulan

Secara singkat BS5750 merupakan standar nasional yang berlaku di Inggris untuk menyamakan kualitas yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan disana.
Sedangkan ISO 9000 merupakan standar internasional untuk sistem manajemen kualitas. ISO 9000  bermaksud menyamakan sistem kualitas yang berlaku secara internasional diantara perusahaan-perusahaan dalam menghasilkan produk baik barang maupun produk dalam hal jasa.
Dalam dunia pendidikan setidaknya membawa manfaat bagi lulusnya untuk lebih mudah menggambarkan karir didunia internasional.Menambah rasa percaya diri dalam melamar pekerjaan dan memasuki dunia kerja. Kompetensipersonal semakin diperhitungkan oleh perusahaan dimana mereka akan bekerja

DAFTAR PUSTAKA
Creech, Bill. Lima Pilar TQM. Jakarta: Binarupa Aksara, 1996.
Faure, Lasley Munro, and Munro Faure Mancolm. Menerapkan Manajemen Terpadu. Jakarta: PT Elek Media Komputindo, 1999.
Sallis, Edward. Total Quality Management In Education. Jogyakarta : IRCiSoD. 2012.
Tjiptono, Fandy, and Diana Anastasia. Total Quality Management. Yogyakarta: ANDI OFFSET, 1996.                                       
 

Penyusun Iis dkk

KERANGKA PENGEMBANGAN MATERI AQIDAH AKHLAK


KERANGKA PENGEMBANGAN MATERI AQIDAH AKHLAK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pendidikan akidah akhlak merupakan permasalahan utama yang selalu menjadi tantangan manusia dalam sepanjang sejarahnya. Dimana suatu bangsa akan kokoh dan sebaliknya suatu bangsa akan runtuh bila akhlaknya rusak. Aqidah akhlak merupakan dasar yang utama dalam pembentukan kepribadian manusia yang seutuhnya. Pendidikan yang mengarah pada terbentuknya kepribadian berakhlak merupakan hal yang pertama yang harus dilakukan, sebab akan melandasi kesetabilan kepribadian secara keseluruhan
Aqidah Akhlaq itu sendiri adalah  mata pelajaran yang  dikembangkan dari ajaran-ajaran dasar yang terdapat dalam pendidikan agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan AL-Hadits. Untuk kepentingan pembelajaran, dikembangkan materi Aqidah dan Akhlaq pada tingkat yang lebih rinci sesuai tingkat dan jenjang pendidikan. Aqidah Akhlaq merupakan salah satu rumpun mata pelajaran pembelajaran agama di madrasah ( Al-Qur’an Hadist, Aqidah Akhlaq, Syari’ah/ Fiqih Ibadah Muamalah dan Sejarah  Kebudayaan Islam )yang secara interagtif menjadi sumber nilai dan landasan moral spiritual yang kokoh dalam pengembangan keilmuan dan kajian keislaman. Sebagai sebuah pelajaran, Aqidah Akhlaq juga mempunyai beberapa pokok bahasan yang akan diajarkan kepada peserta didik untuk menguasai pengetahuan dan pemahaman tentang Aqidah dan Akhlaq dalam ajaran Islam, melainkan juga yang terpenting adalah bagaiamana peserta didik dapat mengamalkan Aqidah dan Akhlaq itu dalam kehidupan sehari-hari.Oleh karena itu, pendidikan tentang akhlak dalam kehidupan umat manusia menempati kedudukan yang sangat penting.
Di Madrasah Ibtidaiyah pendidikan merupakan bagian integral dari pendidikan agama.Memang pendidikan Aqidah Akhlak bukan satu-satunya faktor yang menentukan sekaligus membentuk watak dan kepribadian peserta didik. Tetapi secara substansial mata pelajaran Aqidah Akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan nilai-nilai keyakinan keagamaan (tauhid) dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari
Pendidikan Aqidah Akhlak memberikan pengajaran tentang tata nilai yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, mengatur hubungan antara sesama manusia, mengatur hubungan dengan lingkungan dan mengatur dirinya sendiri.Dengan demikian pelajaran Aqidah Akhlak merupakan pelajaran yang teoritis dan aplikatif.Pelajaran teoritis menanamkan ilmu pengetahuan, sedangkan pelajaran aplikatif membentuk sikap dan perilaku dalam kehidupan.Jadi, tolak ukur keberhasilan siswa tidak dapat diukur dengan tinggi rendahnya taraf intelektual anak (aspek kognitif), melainkan hendaknya harus dilihat dari sisi bagaimana karakteristik yang terbentuk melalui pendidikan formalnya (aspek afektif dan psikomotorik).
Upaya pengembangan pembelajaran Aqidah Akhlak yang berorientasi pada pendidikan nilai (afektif) perlu mempertimbangkan 3 faktor yang mempengaruhi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), yang lebih menekankan pada penggalian karakteristik peserta didik, terutama dalam hal perkembangan nilai yang sekaligus dapat mempengaruhi pilihan strategi (pendekatan metode dan teknik) yang dikembangkannya. Sehingga pembelajaran Aqidah Akhlak tidak sekedar terkonsentrasi pada persoalan teoritis dan kognitif semata, akan tetapi juga sekaligus mampu menginternalisasikan makna dan nilai-nilai Aqidah Akhlak dalam diri siswa melalui berbagai cara, media dan forum. Selanjutnya makna dan nilai-nilai tersebut dapat menjadi sumber motivasi bagi siswa untuk bergerak, berbuat, berperilaku secara konkrit dalam wilayah kehidupan praktis sehari-hari.
Karena itu sekolah, yang berfungsi sebagai wahana pembinaan, pengajaran dan pendidikan harus mampu mengatasi perilaku siswa dengan menggunakan mata pelajaran Aqidah Akhlak sebagai materi pokoknya dengan menginternalisasikan ke dalam diri siswa makna dan nilai-nilai Aqidah Akhlaq dalam interaksi riil agar dapat tercapai tujuan pendidikan yaitu menciptakan manusia Indonesia( peserta didik ) seutuhnya serta menjauhkan diri siswa dari penyimpangan perilaku yang tidak diharapkan.
Madrasah Ibtidaiyah  merupakan madrasah yang menampung anak sekitar. Dari realitas yang ada lingkungan memiliki peranan besar dalam mewarnai proses penanaman nilai-nilai aqidah dan akhlak bagi anak. Oleh karana itu terlebih dahulu penulis akan menguraikan masalah tentang pengembangan Pembelajaran Mata Pelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah .
1.2  Rumusan Masalah
Dari uraian diatas banyak hal yang harus diketahui, oleh karena itu kami memberikan rumusan masalah yaitu sebagai berikut :
1.      Apa itu aqidah ahlaq ?
2.      Apa saja ruang lingkup pembelajaran aqidah ahlaq ?
3.      Apa tujuan pembelajaran aqidah akhlak ?
4.      Sistematika dan metode apa yang digunakan dalam pembelajaran akidah ahlak ?
5.      Bagaimana evaluasi yang dilakukan ?
6.      Bagaimana menganalisis dan merevisi materi serta konsep kurikulum pembelajaran aqidah ahlaq ?
1.3  Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan makalah yang dilakukan yaitu melalui study literature atau metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan buku, dan juga mencari materi di dalam internet yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas.
1.5 Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas, tetapi ada  beberapa tujuan lain, diantaranya yaitu :
1.      Memahami apa itu pembelajaran akidah ahlaq.
2.      Mengetahui ruang lingkup pembelajaran akidah ahlaq
3.      Mengetahui fungsi dan tujuan pembelajaran akidah ahlaq
4.      Mengetahui metode yang digunakan dalam menerapkan pembelajaran akidah akhlaq.
5.      Mengetahui tatacara dalam mengevaluasi belajar akidah ahlaq.
6.      Dapat menganalisis dan merevisi materi serta konsep kurikulum pembelajaran akidah ahlaq

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pengertian pendidikan agama islam secara formal dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah upaya dasar terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan agama islam dari sumber utamanya kitab suci alquran dan hadist, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengamalan. Agar siswa dalam aktivitas kehidupannya tidak lepas dari pengamalan agama, berakhlak mulia dan berkepribadian utama, berwatak sesuai agama islam. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pendidikan agama islam yang diselenggarakan pada semua jalur jenjang dan jenis pendidikan menekankan bukan hanya pada pengetahuan terhadap islam, tetapi juga terutama pada pelaksanaan dan pengamalan agama peserta didik dalam seluruh kehidupannya. Menurut Prof. Dr. Zakiah Drajat PAI adalah, usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup (way of life) yang dilaksanakan berdasarkan ajaran islam.
Bangsa Indonesia telah berketetapan bahwa melalui proses pendidikan itulah setiap warga negara Indonesia dibina dan ditingkatkan keimanan dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, pendidikan agama Islam disekolah merupakan proses dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya, yakni manusia yang utuh jasmani dan rohani yang sesuai dengan tujuan umum pendidikan nasional. Oleh karena itu, bisa kita pahami bahwa pendidikan agama Islam disamping fungsinya sebagai fungsi pendidikan, juga berfungsi sebagai fungsi Agama. Artinya, untuk mengetahui ajaran agama Islam tidak lain melalui tahapan proses pendidikan yang pada akhirnya konsep manusia iman, takwa, dan akhlak mulia akan tercapai.
B.       Pengertian Materi Aqidah Akhlaq
Materi aqidah akhlak merupakan salah satu pelajaran yang diajarkan disekolah formal dan merupakan rumpun mata pelajaran pendidikan agama islam  ( PAI ).Secara etimologi (bahasa) kata aqidah akhlak, terdiri dari dua kata aqidah dan akhlak Kata aqidah berasal dari bahasa Arab yang berarti kepercayaan atau keyakinan.
Sedangkan secara terminologi (istilah) aqidah berarti segala keyakinan yang ditetapkan oleh Islam yang disertai oleh dalil-dalil yang pasti[1]. Hal-hal yang termasuk di dalam pembahasan aqidah yaitu tentang Tuhan dan segala sifat-Nya serta hal-hal yang berkaitan dengan alam semesta, seperti terjadinya alam.Adapun pengertian akhlaq secara etimologi( bahasa ) yang mempunyai arti tabiat, kebiasaan atau suatu tingkah laku yang mempengaruhi perilaku manusia.[2]  Ibnu Athir menjelaskan bahwa hakekat dari makna itu ialah gambaran batin manusia yang tepat (jiwa dan sifatnya) sedangkan merupakan gambaran bentuk luaeasnya (raut muka, warna kulit, tinggi rendahnya tubuh dan lain sebagainya).
Pembelajaran Aqidah Akhlaq adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengimani Allah SWT, dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman, keteladanan dan pembiasaan. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk dalam bidang keagamaan, pembelajaran itu juga diarahkan pada peneguhan aqidah di satu sisi dan peningkatan toleransi serta saling menghormati dengan penganut agama lain dalam rangka mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa.
C. Tujuan Mata Pelajaran Aqidah Aqhlaq.
Aqidah Akhlaq di Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang mempelajari rukun iman yang dikaitkan dengan pengenalan dan penghayatan dengan al-asma’ul husna, serta penciptaan suasana keteladanan dan pembiasaan dalam mengamalkan akhlak terpuji  dan adab islami melalui pemberian contoh – contoh perilaku dan cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara substansial mata pelajaran Aqidah-Akhlakqmemiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempelajari dan mempraktikkan akidahnya dalam bentuk pembiasaan untuk melakukan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari sebagai manfestasi dari keimanannya kepada Allah, malaikat-malaikatnya, kitab-kitabnya, rasul-rasulnya, hari akhir serta qodo dan qodar.
Al-akhlak al-karimah ini sangat penting untuk dipraktikkan dan dibiasakan oleh peserta didik dalam kehidupan individu, bermasyarakat dan berbangsa, terutama dalam rangka mengantisipasi dampak negatif dari era globalisasi dan krisis multidimensional yang melanda bangsa dan Negara Indonesia.
Mata pelajaran Aqidah Akhlaq di Madrasah Ibtidaiyah bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta didik yang diwujudkan dalam akhlaknya yang terpuji, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengamalan peserta didik tentang Aqidah dan Akhlaq Islam, sehingga menjadi manusia muslim yan terus berkembang dan meningkat kualitas keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT, serta mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai akidah Islam berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pembelajaran yang lebih tinggi.[3]
D.  Ruang Lingkup Materi Aqidah Akhlak di MI
Mata pelajaran Aqidah Akhlaq di Madrasah Ibtidaiyah berisi pelajaran yang dapat mengarahkan kepada pencapaian kemampuan dasar peserta didik untuk dapat memahami rukun iman dengan sederhana serta pengalaman dan pembiasaan berakhlak islami secara sederhana pula, untuk dapat dijadikan perilaku dalam kehidupan sehari-hari serta sebagai bekal untuk jenjang pendidikan berikutnya.
Ruang lingkup  mata pelajaran Aqidah Aqhlak di Madrasah Ibtidaiyah meliputi :
1.      Aspek aqidah ( keimanan) meliputi :[4]
a.       Kalimat thayyibah sebagai materi pembiasaan, meliputi : Laa ilaaha illallah, basmallah, alhamdullillah, subhanallah, Allahu Akbar, ta’awudz, maasya Allah, assalamu’alaikum, shalawat, tarji’, laa haula walaa quwwata illa billah, dan istighfar.
b.      Al-asma’ al-husna sebagai materi pembiasaan, meliputi : al-Ahad, al-Khaliq, ar-Rahman, ar-Rahiim, as-Sami’, ar-Razzaaq, al-Mughnii, al-Hamid, asy-Sakuur, al-Qudduus, ash-Shamad, al-Muhaimin, al-‘Azhiim, al-Kariim, al-Kabiir, al-Malik, al-Bathiin, al-Walii, al-Mujiib, al-Wahhab, al-‘Aliim, ash-Zhaahir, ar-Rasyiid, al-Haadi, as-Salaam, al-Mu’min, al-Latiif, al-Baaqi, al-Bashiir, al-Muhyi, al-Mumiit, al-Qawii, al-Hakiim, al-Jabbaar, al-Mushawwir, al-Qadiir, al-Ghafuur, al-Afuww, ash-Shabuur, dan al-Haliim.
c.   Iman kepada Allah dengan pembuktian sederhana melalui kalimat tayyibah, al-asma’ alhusna dan pengenalan terhadap shalat lima waktu sebagai manifestasi iman kepada Allah.
d. Meyakini rukun iman (iman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan Hari akhir serta Qada dan Qadar Allah).
2.  Aspek akhlak meliputi:
a. Pembiasaan akhlak karimah (mahmudah) secara berurutan disajikan pada tiap sem
ster dan jenjang kelas, yaitu: disiplin, hidup bersih, ramah, sopan santun, syukur nikmat, hidup sederhana, rendah hati , jujur, rajin, percaya diri, kasih sayang, taat, rukun, tolong-menolong, hormat dan patuh, sidik, amanah, tablig, fathananah, tanggung jawab rukun, adil, bijaksana, teguh pendirian, dermawan, optimis, qana’ah dan tawakal.
b. Mengindari akhlak tercela (madzmumah) secara berurutan disajikan pada tiap semester dan jenjang kelas, yaitu: hidup kotor, berbicara jorok/kasar, bohong, sombong, malas, durhaka, khianat, iri, dengki, membangkang, munafik, hasud, kikir, serakah, pesimis, putus asa, marah, fasik, dan murtad.
3.  Aspek adab Islami, meliputi:
a. Adab terhadap diri sendiri, yaitu: adab mandi, tidur, buang air besar/kecil, berbicara, meludah, berpakaian, makan, minum, bersin, belajar, dan bermain.
bh . Adab terhadap Allah, yaitu: adab di masjid, mengaji, dan beribadah.
c.  Adab kepada sesama, yaitu: kepada orang tua, saudara, guru, teman, dan tetangga.
d. Adab terhadap lingkungan, yaitu: kepada binatang dan tumbuhan, di tempat umum, dan di jalan.
4.  Aspek kisah teladan, meliputi: Kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhan, Nabi sulaiman dengan tentara semut, masa kecil Nabi Muhammad SAW, masa remaja Nabi Muhammad SAW, Nabi Ismail, Kan’an, kelicikan saudara-saudara Nabi yusuf AS, Tsa’labah, Masithah, Ulul Azmi, Abu Lahab, Qarun, Nabi Sulaiman dan umatnya, Ashabul Kahfi, Nabi Yunus, dan Nabi Ayub. Mateti kisah-kisah teladan ini disajikan sebagai penguat terhadap isi materi, yaitu aqidah dan aqkhlak, sehingga tidak ditampilkan dalam standar kompetensi, tetapi ditampilkan dalam kompetensi dasar dan indikator.
E.  Sistematika Materi Aqidah Akhlaq
Kompetensi mata pelajaran Aqidah Akhlaq berisi sekumpulan kemampuan minimal yang harus dikuasai peserta didik selama menempuh pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah. Kompetensi ini berorientasi pada perilaku afektif dan psikomotorik dengan dukungan pengetahuan kognitif dalam rangka memperkuat aqidah serta meningkatkan kualitas akhlaq sesuai dengan ajaran Islam.
     Kompetensi mata pelajaran Aqidah Akhlaq di Madrasah Ibtidaiyah adalah sebagai berikut:
1. Mengenal Allah melalui kalimat tayyibah ( Alhamdulillah dan Allahu Akbar )
2.  Mengenal Allah melalui sifat-sifat Allah yang terkandung dalam Asma’ul Husna ( Al-wahab, Ar-razzaq, Al-fattah, Asy-syakur, dan Al- Mughni )
3.  Meyakini adanya hari akhir ( Kiamat )
4.  Membiasakan sikap optimis, qana’ah, dan tawakal dalam kehidupan sehari-hari.
5. Membiasakan akhlak yang baik ketika ditempat ibadah dan tempat umum
6. Membiasakan diri untuk menghindari sifat kikir dan serakah melui kisah Qarun.
E. Metode Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlaq
Setiap pengajaran  di perlukan metode-metode untuk menyampaikan pembelajaran agar tujuan pendidikan agar dicapai dengan baik.Beberapa metode pembelajaran yang dalam penggunaan metodenya telah disesuaikan dengan kemampuan dasar, tujuan yang hendak dicapai serta materi/ pokok bahasan yang hendak disampaikan.
Dalam hal ini metode pengajaran untuk mata pelajaran aqidah akhlaq itu banyak sekali, dan bisa digunakan beberapa metode dalam satu kali pembelajaran.  Diantara metode-metode tersebut adalah :
1.      Metode Ceramah
Metode ceramah sangat lazim digunakan dalam proses belajar mengajar. Jadi dapt dikatakan bahwa metode ceramah adalah metode yang sangat pertama sekali, dan guru lebih sering menggunakan metode ini.Metode ceramah digunakan oleh guru mulai awal pertemuan sampai dengan akhir pertemuan (mulai awal kegiatan inti sampai jam pelajaran habis).
Adapun gambaran penggunaan metode ini dikemukakan Zakiyah Daradjat dalam bukunya Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam bahwa dalam metode ceramah ini murid duduk, melihat dan mendengarkan serta percaya bahwa apa yang diceramahkan guru itu adalah benar, murid mengutip iktisar ceramah semampu murid itu sendiri dan menghafalnya tanpa ada penyelidikan lebih lanjut oleh guru yang bersangkutan.
Sejak zaman Rasulullah metode ceramah merupakan cara yang paling awal yang dilakukan Rasulullah saw dalam penyampaian wahyu kepada umat. Karakteristik yang menonjol dari metode ceramah adalah peranan guru tampak lebihdominan. Sementara siswa lebih banyak pasif dan menerima apa yang disampaikan oleh guru. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad saw bersabda: Yang Artinya: .Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat..
2.      Metode Diskusi
Metode diskusi ini dilaksanakan pada materi-materi tertentu saja, yang dianggap manarik untuk dibahas.Itu pun sifatnya tidak rutin minimal dua kali dalam satu bulan. Karena metode ini hampir mendekati fungsi dan manfaatnya dengan metode tanya jawab.
metode diskusi berfungsi untuk merangsang murid berpikir atau mengeluarkan pendapatnya sendiri mengenai persoalan-persoalan yang kadang-kadang tidak dapat dipecahkan oleh suatu jawaban atau suatu cara saja, tetapi memerlukan wawasan/ilmu pengetahuan yang mampu mencari jalan terbaik (alternatif terbaik).
3.      Metode Pemberian Tugas dan Resitasi
        Metode pemberian tugas dan resitasi ialah suatu cara mengajar dimana seorang guru  memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh guru dan murid mempertanggung jawabkannya.
Pertanggung jawaban itu dapat dilaksanakan dengan cara:
1) Dengan menjawab test yang diberikan guru
2) Dengan menyampaikan ke muka berupa lisan
3) Dengan cara tertulis
Dalam memberikan tugas ini ada yang langsung dikerjakan di sekolah seperti menjawab soal-soal latihan yang ada dibuku, membuat rangkuman dan sebagainya, dan langsung diselesaikan pada waktu pelajaran tersebut.dan ada juga pemberian tugas untuk dikerjakan dirumah oleh siswa.
4.      Metode Tanya Jawab
Metode ini bertujuan agar anak didik memiliki kemampuan berfikir dan dapat mengembangkan pengetahuan yang berpangkal pada kecerdasan otak dan intelektualitas. Ini merupakan tujuan dalam aspek kognitif. Metode ini bisa dilakukan antara guru dengan siswa atau siswa dengan siswa.
F. Evaluasi ( Penilaian )
Untuk mengetahui kompetensi peserta didik sebagai hasil pembelajaran Aqidah Akhlaq, perlu dilakukan penilaian dengan rambu-rambu sebagai berikut:
1. Penilaian yang dilakukan meliputi penilaian kemajuan belajar dan penilaian hasil belajar peserta didik yang terdiri dari pengetahuan, sikap dan perilaku mereka.
2. Penilaian kemajuan belajar merupakan pengumpulan informasi tentang kemajuan belajar peserta didik. Penilaian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemmpuan dasar yang dicapai peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam kurun waktu, unit satuan, atau jenjang tertentu.
3. Penilaian hasil belajar Aqidah Akhlaq adalah upaya pengumpulan informasi untuk menntukan tingkat penguasaan peserta didik terhadap suatu kompetensi meliputi : pengetahuan, sikap dan nilai. Penilaian hasil belajar ini dilakukan sepenuhnya oleh Madrasah yang bersangkutan.Hasil penilaian dijadikan sebagai pertimbangan utama dalam memasuki pembelajaran jenjang berikutnya.
 4. Penilaian hasil belajar Aqidah Akhlaq secara nasional dilakukan dengan mengacu kepada kompetensi dasar, hasil belajar, materi standar dan indikator yang telah ditetapkan di dalam Kurikulum Nasional. Penilaian tingkat nasional berfungsi untuk memperoleh informasi dan data tentang mutu hasil penyelenggaraan mata pelajaran Aqidah Akhlaq.
5. Teknik dan instrumen penilaian yang digunakan adalah yang dapat mengukur dengan tepat kemampuan dan usaha belajar peserta didik.
6. Penilaian dilakuakan melalui tes dan non tes.
7. Pengukuran terhadap ranag afektif dapat dilakukan dengan menggunakan cara non tes, seperti skala penilaian, observasi dan wawancara.
8. Penilaian terhadap ranah psikomotorik dengan tes perbuatan dengan menggunakan lembar pengamatan atau instrumen lainnya. Secara umum penilaian dalam pembelajaran Aqidah Akhlaq dapat dilihat pada buku Pedoman Khusus Aqidah dan Akhlaq.
G. Alokasi Waktu
Berdasarkan kompetensi inti disusun alokasi waktu yang sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, angka jumlah jam pelajaran per minggu untuk tiap mata pelajaran adalah relatif. Guru dapat menyesuaikannya sesuai dengan kebutuhan peserta didik dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan serta jumlah alokasi waktu jam pembelajaran setiap kelas merupakan jumlah minimal yang dapat ditambah sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Dalam hal ini Mata pelajaran Akidah Ahklaq pada tingkat Madrasah Ibtidaiyah di MI 04 Wonopringgo, Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar bidang studi Aqidah Akhlak telah sesuai dengan pedoman kurikulum Aqidah Akhlak di MI, alokasi waktu pembelajaran Aqidah Akhlak adalah 2 jam pertemuan (2 x 45 menit) dalam 1 minggu dan telah terjadwal dengan baik sesuai dengan kurikulum, silabus dan perencanaan.
H. Analisis Materi
     Pembelajaran Setiap materi yang diajarkan pada anak mengandung nilai-nilai yang terkait dengan perilaku kehidupan sehari-hari, misalnya dalam mengajarkan tentang kalimat  Tayyibah selain keharusan menyampaikan ciri-cirinya juga menyampaikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yaitu diucapkan ketika kita mendengar, melihat, atau mengalami sendiri sesuatu hal yang menyenangkan. Nilai-nilai inilah yang harus ditanamkam kepada anak didik baik melalui ucapan guru maupun dari perilaku guru yang menjadi cerminan/teladan siswa. Selain aspek pengetahuan (kognitif), pembelajaran Aqidah Akhlak juga diarahkan pada aspek fungsional (aspek sikap), sehingga kelak seorang muslim mampu bersikap sebagai seorang muslim yang mempunyai akhlak mulia. Untuk itu diperlukan keteladanan dari guru dan seluruh komponen madrasah yang lainnya.
Untuk materi “ Kalimat Tayyibah” di kelas V Madrasah Ibtidaiyah pada bab 1 ini, sudah cukup bagus dan sesuai dengan konsep pembelajaran tingkat MI, ditambah lagi dalam metode pembelajarannya ditambah dngan cara menyanyi ( diselingi lagu ) dalam melafalkan sehingga membuat peserta didik lebih aktif dan mengena  dan dilihat dari sisi psikologis anak kami rasa sudah sesuai dengan tingkat kematangan berfikir anak yang sudah bisa berfikir abstrak, sehingga pembelajaran yang disuguhkan dapat diterima peserta didik.
I. Revisi terhadap Konsep Kurikulum Akidah Ahklaq di MI
Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar bidang studi Aqidah Akhlak telah sesuai dengan pedoman kurikulum Aqidah Akhlak di MI, dan alokasi waktu pembelajaran Aqidah Akhlak adalah 2 jam pertemuan (2 x 40 menit) dan telah terjadwal dengan baik sesuai dengan kurikulum, silabus dan perencanaan.
Yang perlu menjadi catatan adalah bagaimana guru Pada waktu pelaksanaan pembelajaran Aqidah Akhlaq di dalam kelas dapat melakukan langkah-langkah dalam memberikan materi pengajaran Aqidah Akhlak di MI dengan bincang-bincang sebagai pendahuluan, selanjutnya masuk ke materi pembahasan dan diakhiri dengan penutup bisa dilakukan tutup langsung, bisa juga dengan tanya jawab atau evaluasi, tergantung situasi dan kondisi serta materinya.
Sementara buku pokok yang diajarkan kepada siswa bidang studi Aqidah Akhlak yang digunakan adalah merujuk pada buku Aqidah Akhlak yang dipakai Madrasah Tsanawiyah Negeri dari Kementrian Agama:
a. Karangan Tim Bina Karya Guru terbitan Erlangga cetakkan tahun 2008 KTSP
b. Karangan Tim EKSIS cetakkan tahun 2008 c. Buku LKS  terbitan CITRA PUSTIKA cetakan tahun 2008
Dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di MI menurutt penulis bahwa metode pembelajaran dalam penggunaannya telah disesuaikan dengan kemampuan dasar, tujuan yang hendak dicapai serta materi/ pokok bahasan yang hendak disampaikan. Dalam penyampaian materi pelajaran di kelas setiap guru diberi kebebasan menggunakan metode pengajaran sesuai dengan psikis dan kebutuhan siswa dalam belajar, tetapi secara umum metode ceramah masih sangat relevan untuk digunakan setiap guru, bahkan metode ini merupakan metode yang paling utama dalam upaya peningkatan mutu interaktif - edukatif dalam proses belajar mengajar.
Kemampuan seorang guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan bagian dari tercapainya suatu pembelajaran pada mata pelajaran atau bidang studi dan juga mempengaruhi pemahaman dan pendidikan siswa. Serta konsep kurikulum pada mata pelajaran Aqidah ahklaq menurut kami cukup dengan menambahkan referensi-referensi yang terkait dengan Mata pelajaran Akidah Ahklaq guna menambah wawasan peserta didik akan pengetahuan tentang Akidah Ahklaq.
Membuat keputusan dan mengambil langkah …” berimplikasi bahwa orang yang diberdayakan mempunyai informasi, pengetahuan dan kewenangan membuat keputusan untuk memilih tindakan yang paling baik. Pelatihan dan kebebasan diimplikasikan jika keputusan akan dibuat oleh orang lain selain pembuat keputusan tradisional.
Pemberdayaan berasal dari kata “daya” yang mendapat awalan ber- yang menjadi kata “berdaya” artinya memiliki atau mempunyai daya.Daya artinya kekuatan, berdaya artinya memiliki kekuatan.
Pemberdayaan artinya membuat sesuatu menjadi berdaya atau mempunyai daya atau mempunyai kekuatan. Pemberdayaan dalam bahasa Indonesia merupakan terjemahan dari empowerment dalam bahasa inggris.
Pemberdayaan atau empowerment adalah proses membangun dedikasi dan komitmen yang tinggi sehingga organisasi itu bisa menjadi sangat efektif dalam mencapai tujuan-tujuannya dengan mutu yang tinggi. Dalam organisasi yang telah diberdayakan akan tercipta hubungan di antara orang-orangnya yang saling berbagi kewenangan, tanggung-jawab, komunikasi, harapan-harapan, dan pengakuan serta penghargaan.
Pemberdayaan merupakan proses perincian (breakdown) dari hubungan atau relasi antara subjek dan objek (termasuk dikotomi laki-laki – perempuan). Proses ini mementingkan adanya pengakuan subjek akan kemampuan atau daya (power) yang dimiliki objek. Secara garis besar, proses ini mengutamakan mengalirnya daya (flow of power) dari subjek ke objek. Dalam pengertian konvensional, konsep pemberdayaan sebagai terjemahan empowerment mengandung dua pengertian, yaitu (1) to givepower or authority atau memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan, atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain, (2) to give ability to atau to enable atau usaha untuk memberi kemampuan atau keberdayaan.
Prijono (1996), menjelaskan bahwa istilah pemberdayaan sering kali digunakan dalam konteks kemampuan meningkakan keadaan ekonomi individu.Selaian itu, pemberdayaan juga merupakan konsep yang mengandung makna perjuangan.
Jadi dapat disintesiskan bahwa pemberdayaan merupakan proses menjadikan seseorang untuk memiliki kekuatan melalui pelatihan untuk memberikan kesempatan membuat keputusan dengan mempartisipasikan dan memfungsikan peran untuk mencapai kualitas individu.
Pendidikan menurut Notoatmojo adalah semua usaha atau upaya yang sudah direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik kelompok, individu, maupun masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan pelaku pendidikan.
Dari pengertian pemberdayaan dalam pendidikan dapat disintesiskan bahwa pemberdayaan dalam pendidikan adalah proses memberikan kekuatan kepada stakeholder melalui pelatihan dan memberikan kesempatan untuk membuat keputusan yang dapat mempengaruhi kegiatan pembelajaran sehingga menghasilkan kompetensi yang diinginkan pelaku pendidikan.


BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Sebagai sebuah mata pelajaran, Aqidah Akhlaq juga mempunyai beberapa pokok bahasan yang akan diajarkan kepada peserta didik selama jenjang pendidikannya yang bertujuan tidak hanya mengantarkan peserta ntuk mdidik uenguasai pengetahuan dan pemahaman tentang Aqidah dan Akhlaq dalam ajaran Islam, melainkan juga yang terpenting adalah bagaimana peserta didik dapat mengamalkan Aqidah dan Akhlaq itu dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran Aqidah Akhlak akan lebih mengena apabila siswa dihadapkan pada sebuah realita atau pengalaman sehari-hari, baik di dalam ataupun di luar kelas, sehingga materi yang disampaikan itu lebih bermakna dan lebih mengena bagi siswa, dengan kata lain siswa lebih mudah memahami materi yang disampaikan oleh guru, misal melalui penugasan terhadap siswa tentang pengalamannya di rumah ataupun di lingkungan sekitarnya dan menyampaikan pengalaman tersebut di sekolah. Sehingga terjadi pertukaran informasi atau pengalaman, baik antara siswa dengan siswa atau antara siswa dengan guru. Secara formal dalam kurikulum berbasis kompetensi mata pelajaran Akidah Ahklak adalah upaya dasar yang terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan agama islam dari sumber utamanya kitab suci alquran dan hadist, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengamalan. Agar siswa dalam aktivitas kehidupannya tidak lepas dari pengamalan agama, berakhlak mulia dan berkepribadian utama, berwatak sesuai agama islam.
B.  Saran
Khusunya bagi pendidik penulis berharap proses pembelajaran itu tidak hanya dinilai dari segi kognitifnya saja yang ditekankan oleh pemerintah tapi juga dari ranah afektif dan psikomotoriknya juga lebih diperhatikan sehingga timbul keseimbangan antara ketiganya agar tujuan yang sebenarnya dalam pendidikan islam itu tercapai.


DAFTAR PUSTAKA
Mulyadi. Evaluasi Pendidikan, Malang, UIN MALIKI PRESS, 2010.
Ramayulis. Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta, Kalam Mulia, 1994.
Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung, PT Remaja Rosda karya, 2006.
Tim EKSIS. Modul Pintar. Diponegoro. CITRA PUSTAKA. 2008
Bina Karya Guru.Bina Aqidah dan Akhlaq.ERLANGGA. 2008
http://susilawatirahmadi.blogspot.co.id/2015/06/pendalaman-materi-pai-akidah-akhlak.html



Penyusun Iis Lailatul Izzah,dkk

[1]. Mohammad Saleh Al-Uthaimin, Aqidah Ahlus sunnah waljama’ah, ( Saudi Arabia : Lembaga riset Fatwa, 1992. hal : 9 )
[2] Imam Suraji, Etika Dalam Prespektif Al-Qur’an dan Hadist. , ( Pekalongan : STAIN Press, 2013. hal. 1 )
[4]Bina Karya Guru.Bina Aqidah dan Akhlaq.ERLANGGA. 2008

Featured Post

Kepercayaan orang Jawa sebelum Islam